40 Juta Vaksin Flu Babi Sia-sia, Motivasi WHO Dipertanyakan

New York, Sekitar 40 juta dosis vaksin flu babi (HINI) yang digunakan untuk melindungi masyarakat AS terbuang sia-sia. Jumlah vaksin yang tidak terpakai ini tercatat tertinggi dalam sejarah pembuangan obat.

Jumlah 40 juta dosis vaksin yang akan dibakar itu,– karena kadaluarsa per 30 Juni 2010–, senilai US$ 260 juta atau Rp 2,34 triliun.

Jumlah vaksin flu babi yang dibuang ini 25 persen dari total persediaan, yang artinya 43 persen pasokan vaksin untuk warga AS berakhir menjadi limbah. Padahal biasanya rata-rata jumlah obat atau vaksin yang dibuang selama ini hanya 10 persen.

“Pembuangan vaksin ini terbanyak dalam sejarah jika menurut standar yang ada,” kata Jerry Weir, yang mengawasi penelitian vaksin untuk badan pengawas obat dan makanan AS atau US Food and Drug Administration (FDA) seperti dilansir dari FoxNews, Senin (5/7/2010).

Pemerintah Amerika dinilai terlalu berlebihan memesan vaksin flu babi, padahal flu babi tidak sampai menyebabkan kematian. Motivasi badan kesehatan dunia (WHO) yang mengumumkan pandemik flu babi juga dinilai berlebihan karena membuat banyak negara paranoid.

Namun juru bicara departemen kesehatan dan pelayanan AS, Bill Hall membela pembelian besar itu sebagai risiko yang diperlukan dalam menghadapi virus yang tidak pernah terlihat sebelumnya.

Apalagi menurutnya, ketika flu babi merebak pada April 2009 banyak ahli kesehatan khawatir flu baru itu bisa menjadi epidemi global yang mematikan.

“Meskipun ada banyak dosis vaksin yang tidak digunakan, itu jauh lebih tepat sebagai skenario terburuk daripada terlalu sedikit memiliki dosis vaksin,” kata Hall.

Karena sulit untuk memprediksi dampak dari wabah flu babi ketika itu, departemen kesehatan AS meminta 5 produsen pembuat vaksin untuk segera membuat vaksin. Saat itu juga banyak pakar yang mengatakan setiap orang butuh dua dosis vaksin untuk melawan flu babi.

Sehingga pada tahun lalu pemerintah AS memiliki 200 juta dosis vaksin flu babi, termasuk pesanan yang sudah dipesan 3 tahun sebelumnya. Jumlah persediaan vaksin ini sangat besar dan belum pernah terjadi, jumlahnya hampir dua kali lipat dari jumlah persediaan untuk flu musiman.

Dari 200 juta dosis vaksin sekitar 162 juta dosis vaksin digunakan untuk masyarakat umum dan 36 juta dosis lainnya untuk keperluan militer dan beberapa negara lain.

Kenapa banyak vaksin flu babi yang tidak terpakai? Seperti penelusuran AP yang dikutip dari FoxNews, ada beberapa alasan yang membuat vaksin itu jadi terbuang sia-sia:

1. Setelah digunakan ternyata hanya butuh satu dosis untuk melindungi orang dari flu babi, sementara sebelumnya dikatakan butuh 2 dosis.

2. Banyak dari persediaan vaksin yang ada tidak siap dipakai hingga lewat 2009, setelah tahun itu juga ancaman flu babi mulai mereda.

3. Flu babi ternyata tidak mematikan seperti yang ditakutkan. Jumlah 12.000 kematian, hanya sepertiga dari kematian akibat flu musiman biasa.

Tak hanya di Amerika, di beberapa negara Eropa juga jutaan dosis vaksin flu babi tidak terpakai. Para kritikus mempertanyakan motivasi dari beberapa penasihat WHO yang memiliki hubungan dengan industri farmasi, dengan menyatakan flu babi sebagai pandemi atau epidemi global.

Kritikus menuding kecemasan yang ada terlalu dibesar-besarkan dan akhirnya banyak membuang uang. Padahal kenyataannya, flu burung dan SARS yang menyerang Asia lebih berbahaya.

“Setiap kali ada pakar yang mengatakan bahwa jutaan orang di seluruh dunia akan terbunuh oleh virus-virus itu. Kami telah belajar bahwa para pakar itu benar-benar salah,” kata Dr Ulrich Keil, profesor di universitas terkemuka di Jerman, University of Muenste yang juga penasihat WHO.

Menurutnya, perilaku ini tidak bertanggung jawab karena kampanye kecemasan soal flu babi malah membingungkan dalam penetapan prioritas untuk kesehatan masyarakat.

Jumlah korban tewas dari epidemi influenza juga jauh lebih kecil dari jumlah orang yang mati karena penyakit kronis seperti penyakit jantung, kanker, stroke dan diabetes dalam setiap tahunnya.

Hingga kini WHO masih belum mencabut status pandemi flu babi. Pada 3 Juni 2010, Direktur Jenderal WHO, Margaret Chan mengatakan bahwa tingkat siaga pandemi saat ini masih dalam kemungkinan tertinggi, yaitu tahap 6. WHO akan meninjau keputusan ini pada bulan Juli ini.

Menteri Kesehatan Republik Indonesia Dr Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, DR. PH pada 5 Juni 2010 juga mengatakan pengumuman WHO ini terlalu terburu-buru karena WHO hanya memperhitungkan berdasarkan penyebaran wilayah yang terserang, tidak memperhitungkan tingkat mortalitasnya.

Sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s