Sumber : VivaNews

VIVAnews - Marcello Axel, bayi berumur dua bulan meninggal dunia setelah diberikan imunisasi Difteri Pertusis Tetanus (DPT). Axel adalah anak pertama dari pasangan Steffi Anastasia, 19 tahun dan Hendra Wakim, 23 tahun.

Ketika ditemui di rumahnya, di Sungai Bambu, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Steffi menjelaskan kronologi kejadian meninggalnya Axel.

“Kamis tanggal 27 September 2012, anak saya suntik imunisasi DPT satu di Puskesmas Kebon Bawang, Tanjung Priok. Setelah itu anak saya masih main di rumah sama kakak sepupunya. Sorenya kami pulang ke kosan kami di jalan Ganggeng,” Steffi menceritakan, Jumat 5 Oktober 2012.

Semenjak imunisasi itu, Steffi melihat kondisi anaknya tidak seperti biasanya. Sering menangis, demam tinggi dan bengkak pada paha bekas suntikan. “Nangis terus sama demam tinggi sore harinya,” ujar Steffani sambil menangis.

Pada malam hari, sekitar pukul 11.00 WIB, Hendra yang pertama mengetahui anak kesayangannya sudah terbujur kaku di samping istrinya di tempat tidur.

“Saya pulang kerja anak saya sudah kaku. Dari hidungnya keluar darah dan busa. Saya bangunkan ibunya, panik ditekan dadanya keluar darah lebih banyak lagi,” kata Hendra yang tak kuasa menahan tangis.

Keluarga korban pun segera melapor kejadian ini ke pihak kepolisian. Jenazah korban pun diautopsi sebelum dikebumikan. Saat ini kasusnya sudah ditangani Polsek Tanjung Priok.

“Menurut rumah sakit hasil autopsi akan bisa diberikan hari ini atau besok,” kata Hendra yang bekerja di agen pelayaran.

Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Utara, Bambang Suheri saat dikonfirmasi mengatakan, pihaknya masih menunggu hasil autopsi bayi Marcello Axel dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.

“Ya kami telah menerima laporan tersebut. Untuk itu atas laporan dari orangtua ke Polsek Tanjung Priok dan untuk mencari kejelasan yang sebenarnya, atas rujukan kepolisian dan keluarga korban telah dilakukan autopsi. Sekarang kami masih menunggu hasil,” katanya saat dihubungi wartawan.

Jenazah Marcello Axel sendiri sudah dikuburkan di pemakaman Budhidarma, Cilincing pada Sabtu 29 September 2012. Hingga kini keluarga masih menunggu hasil autopsi yang dilakukan RSCM. (eh)

Sumber :

http://metro.news.viva.co.id/news/read/356998-bayi-2-bulan-tewas-setelah-imunisasi-di-jakarta-utara

Nota Kesepakatan (Untuk melindungi yang akan divaksin)

Perlindungan

Link dibawah ini adalah nota kesepakatan yang dibuat oleh seorang Pengacara di Bandung, dalam nota kesepakatan tersebut intinya berisi kesepakatan antara orang tua anak yang akan divaksin dengan pihak pemberi vaksin. Seandainya akibat pemberian vaksin tersebut ternyata berdampak negatif (terganggunya kesehatan atau bahkan menyebabkan kematian) bagi yang diberi vaksin maka orang tua dapat menuntut secara perdata.
Silahkan Download dan Sebarkan!
Semoga bermanfaat :)

Link 1 :

http://www.box.com/s/hc0b8h1tx16j5oe6gqri

Link 2 :

http://www.ziddu.com/download/18653838/NOTAKESEPAKATAN.doc.html

Home / Berita / Perjalanan Panjang Vaksin Berlemak Babi Perjalanan Panjang Vaksin Berlemak Babi

17 July 2009 | Kategori: Berita

Kendati tetap mengharamkan vaksin meningitis yang mengandung enzim babi, Majelis Ulama Indonesia (MUI) membolehkan penggunaannya dengan alasan darurat. Berikut kronologi penggunaan vaksin hingga pengharamannya:

Tahun 1987
Departemen Kesehatan RI mencatat 99 jamaah haji asal Indonesia meninggal dunia akibat meningitis atau kerusakan pada selaput otak.

Tahun 1988
Arab Saudi mewajibkan jamaah haji disuntik vaksin meningitis. Selain Indonesia, ada 77 negara lain yang menggunakan vaksin ini untuk jamaah haji. Setelah penggunaan vaksin itu, pada 1998-2005 tidak ada lagi laporan jamaah haji meninggal karena meningitis.

24 April 2009
Ketua MUI Sumsel, KH Sodikun, mengekspose adanya kandungan babi pada vaksin meningitis. Kandungan zat haram itu ditemukan dalam penelitian LPPOM MUI Sumsel bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Palembang. Wacana vaksin meningitis haram pun mencuat.

26 Mei 2009
Rencana membahas status vaksin meningitis gagal digelar. Sebuah sumber menyatakan ada upaya memepetkan persoalan itu dengan pelaksanaan ibadah haji, agar keharaman vaksin itu bisa dima”fukan (dibolehkan) karena faktor kedaruratan.Direktur Eksekutif LPPOM MUI, Dr M Nadratuzzaman Hosen, menilai Glaxo Smith Kline (GSK), perusahaan pembuat vaksin meningitis, telah melakukan kebohongan karena menyatakan vaksin itu bebas dari enzim babi, padahal secara zat jelas mengandung babi.

6 Juni 2009
MUI Pusat mengeluarkan fatwa haram terhadap vaksin meningitis. Ketua Komisi Fatwa MUI, KH Ma”ruf Amin, mengatakan, keputusan itu telah diperkuat keterangan Depkes bahwa vaksin itu mengandung babi.

16 Juni 2009
Menteri Kesehatan, Siti Fadilah Supari, menyatakan, keputusan tentang haram atau halalnya vaksin meningitis yang digunakan calon jamaah haji, umrah, dan pekerja musiman, merupakan kewenangan MUI.

28 Juni 2009
Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Pusat, Husniah Rubiana Thamrin, membenarkan, dalam proses pembuatan vaksin meningitis bersentuhan dengan unsur babi–kendati sudah melalui proses ekstraksi.

Kepala BPOM menyatakan, BPOM Arab Saudi telah menawarkan Indonesia membuat vaksin meningitis. karena Indonesia merupakan satu dari 20 negara di dunia yang mampu memproduksi vaksin, antara lain, Biofarma.Anna Priangani dari LPPOM MUI menyatakan, bahan babi yang digunakan sebagai media dalam pembuatan vaksin meningitis adalah lemak babi (gliserol).

7 Juli 2009
Para ulama merencanakan mengirim delegasi ke Arab Saudi menyusul tak kunjung jelasnya sikap negara itu terhadap vaksin meningitis.

8 Juli 2009

Ketua MUI, KH Ma”ruf Amin, menyatakan, MUI kemungkinan menetapkan fatwa kedaruratan vaksin karena pemerintah belum menemukan vaksin meningitis yang terbebas dari unsur babi.

13 Juli 2009
Delegasi ulama Indonesia menemui Grand Mufti Kerajaan Arab Saudi, Syekh Abdul Aziz bin Abdullah Ahal Syekh, dan Menteri Urusan Haji Arab Saudi, Hatim Hasan Qadi. Keduanya kaget mendengar vaksin meningitis mengandung babi. Grand Mufti berjanji melakukan penelitian dan pengujian laboratorium untuk memastikan hal itu. Fatwa akan dikeluarkan setelah penelitian.

Delegasi ulama Indonesia juga mendapat informasi kemungkinan vaksin meningitis itu akan dibahas khusus oleh Organisasi Konferensi Islam (OKI), karena vaksin itu digunakan oleh 77 negara Islam. Delegasi ulama Indonesia, antara lain, terdiri atas KH Amidhan, ketua MUI; Anwar Ibrahim, ketua Komisi Fatwa MUI; KH Muhyiddin Junaidi, ketua Hubungan Luar Negeri MUI; Muhammad Nadratuzzaman Hose, direktur eksekutif LPPOM MUI; serta Anwar Abbas, wakil sekretaris MUI.

16 Juli
MUI menyatakan vaksin meningitis tetap HARAM, tapi membolehkannya dengan alasan darurat. Yang boleh menggunakan vaksin atas nama kedaruratan adalah yang baru pertama kali naik haji dan orang yang telah bernazar untuk umrah. Di luar itu dianggap tidak darurat. she/osa/yto

Sumber : http://www.jurnalhaji.com/2009/07/17/perjalanan-panjang-vaksin-berlemak-babi/

Dua Balita Meninggal Sehabis Imunisasi

REPUBLIKA.CO.ID, BEKASI – Diduga akibat kesalahan prosedur imunisasi, dua balita di Perum Wisma Asri, Bekasi Utara, Kota Bekasi, meninggal dunia. Peristiwa tersebut terjadi sepekan setelah menjalani imunisasi campak dan polio yang digelar di seluruh wilayah Indonesia.

Salah satu korban yang meninggal dunia bernama Hanif M Husnaya (3), putra kedua pasangan Awal Adiguna dan Eva. Juga, Isma Nur Fauziah (3), putri pasangan Tian Setiani dan Nana Setiana. Para orang tua korban sejauh ini belum mendapat kejelasan dari Dinas Kesehatan Kota Bekasi terkait meninggalnya sang buah hati pasca imunisasi.

Ny Sigit (47), nenek Hanif mengatakan, sebelum meninggal, cucu keduanya itu dibawa ke Posyandu Kebalen, Kabupaten Bekasi, untuk divaksinasi polio dan campak.

“Awalnya, anak saya—orang tua Hanif—sempat keberatan jika Hanif divaksinasi. Namun, petugas Posyandu memaksa supaya Hanif divaksinasi karena itu program pemerintah,” tutur Ny Sigit, ketika ditemui, Kamis (3/11).

Sehabis divaksinasi, Hanif pulang dan istirahat. Sorenya, bocah itu terbangun dan muntah-muntah disertai buang air besar yang tiada henti. “Kami pikir awalnya hanya masuk angin biasa. Namun, keesokan harinya Hanif demam tinggi hingga suhu tubuhnya mencapai 42 derajat Celcius,” kata Ny Sigit.

Kedua orang tua Hanif panik dan memberikan obat penurun panas yang biasa diminum Hanif jika terserang demam. Mereka pun langsung membawa putranya ke dokter terdekat, sebelum akhirnya dirawat di Rumah Sakit Mekar Sari, Kota Bekasi.

Saat menjalani perawatan, demam Hanif tak kunjung reda dan justru malah mengalami kejang-kejang hingga akhirnya meninggal dunia pada Jumat (21/10) dini hari. “Semuanya berlangsung sangat cepat,” kata Ny Sigit sedih.

Selang beberapa hari kemudian, kabar serupa datang dari orang tua Isma, yang kediamannya tak jauh dari rumah Ny Sigit. Isma meninggal diduga karena mengalami gejala yang sama. Namun, balita itu menjalani vaksinasi polio dan campak di Posyandu yang berbeda. Anak bungsu dari dua bersaudara itu juga datang menjalani imunisasi dengan kondisi yang sehat.

Sebelum menghembuskan nafasnya, Isma mengalami demam yang membuat sekujur tubuhnya panas. Ketika itu, Tian—ibu Isma—memberikan obat penurun panas dari Posyandu tempat Isma diimunisasi. “Namun, obat itu tak mempan menurunkan demam. Demamnya malah semakin tinggi,” tutur Tian kepada wartawan.

Kondisi tubuh Isma pun semakin menurun karena timbul batuk yang tak kunjung henti. Tian pun membawa Isma ke dokter langganan esok harinya. Seketika demam Isma menurun dari 42 ke 38 derajat Celcius. Akan tetapi kondisi itu tak bertahan lama, balita putri itu mendadak kejang. Merasa panik, kedua orang tua Isma membawa ke Rumah Sakit Anna Medika guna dirawat secara intensif.

Penanganan di rumah sakit itu pun lambat. Menurut Tian, putrinya sempat tak diacuhkan di ruang gawat darurat karena harus melewati prosedur pembayaran deposito sekitar Rp 5 juta. Menjelang malam, Isma mengalami kejang yang kedua kalinya. “Isma dipindahkan ke ruang ICU. Dokter hanya menangani selama 15 menit, setelah itu Isma pun tak tertolong,” ujar dia.

Redaktur: Chairul Akhmad

Reporter: Muhammad Ghufron

Sumber : http://www.republika.co.id/berita/regional/jabodetabek/11/11/03/lu34nd-dua-balita-meninggal-sehabis-imunisasi

Jawaban Terhadap Kisah Vaksinasi oleh Dokter Muslim

Bismillah.Assalamu’alaykum wa rahmatullah.

Perdebatan pro – kontra vaksin sepertinya kian memanas, mengingat dalam 1 minggu ke depan adalah Pekan Imunisasi Nasional (PIN) dimana semakin banyak orangtua cerdas memilih uuntuk menghindari vaksin. Berbagai macam alasan para orangtua untuk memilih mengatakan TIDAK UNTUK VAKSINASI, kelompok ini lebih dikenal dengan kelompok kontra vaksinasi sebagai kelompok minoritas. Diantara alas an mereka adalah kekhawatiran akan bahaya vaksin dan dari segi halal/haramnya produk yang digunakan. Sebagai Negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, tentunya wajar sekali jika isu halal/tidaknya menjadi perhatian khusus para orangtua.

Dan hal tersebut pula yang saya kritisi kepada pihak Biofarma, sebagai produsen vaksin lokal. Dimana sepengetahuan saya bahwa dalam menentukan halal/tidaknya sebuah produk, diwajibkan proses audit dari LPPOM MUI. Namun ternyata, lembaga tersebut tidak pernah mengaudit dan pihak Biofarma mengakui bahwa mereka tidak pernah meminta untuk diaudit. Aneh bukan? Pengakuan ini saya peroleh ketika menghadiri debat pro-kontra imunisasi yang diselenggarakan oleh majalah Ayahbunda di Jakarta.

Dalam 1 minggu menjelang dilaksanakannya PIN, situasi perdebatan semakin memanas. Kemudian muncul sebuah argumentasi yang memojokkan pihak kontra vaksinasi melalui sebuah blog.

Uraian ini bukan untuk menyudutkan siapapun, lebih memberikan ketegasan sikap atas PRINSIP DASAR ALASAN bagi pihak kontra dalam menolak vaksinasi. Saya akan mencoba menjabarkan secara bertahap analisa dan jawaban atas argumentasi di bawah ini.

Dari sebuah blog yang saya baca, menuliskan bahwa “sistem imunisasi/vaksinasi berasal dari dokter-dokter muslim zaman khalifah Turki Utsmani, dan cikal bakalnya sudah ada dari zaman khilafah abbasiyah. Referensi informasi tersebut menurut penuturan si pengirim sumber email ada pada buku “1001 Inventations Muslim Heritage in Our World” page 178. Tertera: “The Anatolian Ottoman Turks knew about methods of vaccination, they called vaccination Ashi. or engrafting, and they had inherited it form older turkic tribes”

Dalam hati, sejujurnya saya terkagum-kagum bahwa begitu hebatnya ilmuwan Islam namun hingga saat ini dunia barat pun masih belum memberikan pengakuan kepada para ilmuwan Islam. Satu kata yang menarik perhatian saya adalah “ENGRAFTING”. Saya memiliki latar belakang pendidikan dokter umum dan kebetulan ayah adalah seorang dokter spesialis bedah, sehingga kata “ENGRAFTING” sudah sering saya dengar sejak beranjak remaja.

Jika merujuk pada kamus kedokteran maka kata tersebut memiliki arti melakukan penanaman pada bagian tubuh, bisa kulit dan sebagainya.

Lalu karena semakin penasaran akan istilah ASHI / ENGRAFTING di jaman tersebut, maka saya telusuri mbah google demi memuaskan keingintahuan. Prinsip dasar saya bahwa ilmu yang diterima haruslah seimbang, dalam arti cek dan ricek adalah penting.

Sebagai kelanjutan kisah terhadap blog tersebut, maka mari kita lanjutkan hingga selesai uraian tersebut yah.

“Informasi berikutnya adalah Lady Mary Wortley Montagu (1689- 1762), istri dari duta besar Inggris untuk Turki saat itu, membawa system vaksinasi ke Inggris untuk memerangi smallpox, tapi ditolak oleh pemerintahan Inggris saat itu.

Untuk informasi mengenai Lady Mary ini, bisa juga dibaca di: http://www.psychologytoday.com/blog/child-myths/200909/lady-mary-wortley-montagucontributor-public-health

Berikut kutipan tulisan pada URL tersebut:

“Lady Mary Wortley Montagu was a pretty girl until she had smallpox at age 26 and was left with many pitted scars on her face and no eyelashes. Her only brother died of the disease. Despite her disfigurement, Lady Wortley Montagu recovered her health and energy. (And we should remember that plenty of other people had smallpox scars on their faces at that time, so the impact was not exactly what it would be if someone today had the same appearance.) With her husband, who was the British Ambassador to Turkey, and their little son and daughter, she traveled to what was then part of the Ottoman Empire.

She watched with interest as Turkish women carried out a method of inoculation for smallpox. This she described in letters to her family back in England. The Turks waited until cool fall weather came after the heat of the summer was over. They inoculated children by using the purulent matter from the sores of a person who had become infected with smallpox. Cutting into 5 or 6 veins (on the legs or upper parts of the arms), they poked the smallpox matter into the incision and then bandaged the site. The children seemed fine for some days, developed a fever for a few more days, and then generally recovered — immune to smallpox. Lady Wortley Montagu decided to have her own young son inoculated, accepting the fact that a small number of children were harmed by the inoculation, and he recovered

well— immune to smallpox. Returning to England, Lady Wortley Montagu began efforts at public education about inoculation. Her friendship with the then Princess of Wales, later Queen Caroline, was a great support to her work (although it’ s probably the case that Lady Mary could have accomplished more if she’d had fewer boyfriends, who didn’t seem to mind the lack of eyelashes). Because of these efforts, the British public was prepared to pay attention 30 years later when Edward Jenner published his evidence about smallpox vaccination.”

Semakin penasaran dengan kisah diatas, maka saya telusuri lebih jauh tentang smallpox, Edward jenner dan ashi Turkic tribes. Pencarian akhirnya membuat saya menemukan link ini http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1200696/ dimana dalam link ini merupakan jurnal ilmiah akan sejarah Edward Jenner sebagai penemu vaksin cacar air/smallpox.

Dalam pengkajian lebih lanjut, semakin memperkuat keyakinan saya bahwa vaksin saat ini dengan teknologi modern memang berbahaya tidak hanya bagi orangtua namun juga bagi bayi dan anak-anak.

Prinsip dasar ASHI atau Inokulasi pada jaman itu hampir sama dengan prinsip vaksinasi alamiah yang masyarakat lakukan terhadap campak. Tentunya ayah bunda pernah mendengar anjuran banyak pihak bahwa jika ada yang sakit campak, maka biarkanlah anak kita tertular dengan demikian anak akan memiliki antibody terhadap penyakit tersebut dengan sendirinya.

Nah ASHI, memang memaparkan penyakit terhadap orang sehat dengan cara melakukan sayatan pada kulit daerah subkutan dan memberikan bagian dari cacar air kedalamnya. Mirip namun tak sama dalam hal teknis.

Kemudian bisa dibaca pula uraian mengenai peran wanita tersebut diatas dalam dunia kesehatan masyarakat pada link ini eurpub.oxfordjournals.org/content/18/4/353.full

Setelah tuntas membaca dan mengkaji, Alhamdulillah keyakinan saya tidak berubah bahkan semakin menguatkan bahwa vaksin kimia saat ini yang dipergunakan memang berbahaya.

Mereka telah salah memahami bahwa penolakan kami adalah pada prinsip vaksinasinya. Padahal, penolakan kami adalah penggunaan bahan kimia yang berbahaya didalam vaksin modern tersebut. Jika dianalisa dari tindakan vaksinasi “kuno”, bisa kita pahami bahwa jaman itu mereka TIDAK menggunakan bahan-bahan kimia seperti merkuri, garam alumunim, atau bahkan menggunakan media hewan haram dalam proses pengembangbiakkan kuman/virus.

Bagaimanapun dalam hati kecil saya saat membaca dan mencari tahu lebih jauh, berpegangan pada prinsip bahwa seorang MUSLIM akan menghindari penggunaan bahan haram dan berbahaya. Dan itu TERBUKTI.

Untuk mengetahui bagaimana peran garam alumunium dalam tubuh, silakan dibaca penelitian ini dimana garam alumunium yang disuntikkan kedalam tubuh seekor tikus memberikan kerusakan bahkan kehancuran dari sel setiap organ tikus tersebut. Dosis yang digunakan tentunya disesuaikan dengan tubuh tikus tersebut. Lalu bagaimana dengan tubuh seorang bayi yang dilakukan berulang kali?

Link terhadap penelitian alum atau garam alumunium bisa dibaca disini :

- http://therefusers.com/refusers-newsroom/aluminum-based-adjuvants-cause-cell-death-and-release-of-host-cell-dna/

- http://www.sciencedaily.com/releases/2011/07/110717204910.htm

- http://www.nature.com/nm/journal/v17/n8/full/nm.2403.html

- http://www.ncbi.nlm.nih.gov/m/pubmed/21568886/

Link diatas hanyalah mengenai fakta akan bahaya garam alumunium yang digunakan sebagai bahan adjuvant di SEMUA vaksin. Untuk bahan vaksin lainnya, silakan ayah bunda telusuri mbah google dan belajar menganalisa sendiri yaahh..

Mari lanjutkan uraian dari blog diatas : “Adalagi informasi lainnya. Untuk vaksinasi dasar, Indonesia telah berhasil membuat vaksin sendiri, sudah terbukti uji klinis dan epidemiloginya, bahkan dieskpor untuk kepentingan regional Asia Tenggara, di Biofarma, Bandung.

Masalah yang berkembang dan mencuat belakangan adalah vaksinasi tambahan, termasuk meningitis untuk calon jamaah haji atau vaksin HPV, yang masih diproduksi oleh produsen luar negeri semisal GSK.

*menurut penuturan seorang guru ngaji bahwa kebetulan beliau bekerja di balai POM, sudah ada vaksin meningitis yang halal untuk calon jemaah haji*”

Mengenai vaksin meningitis, ayah bunda bisa baca sendiri di harian Republika edisi Jumat tanggal 14 Oktober 2011. Vaksin tersebut bahkan baru-baru ini kembali dikritisi oleh Mantan Menkes Siti Fadhillah Sapari bahwa semua vaksin tersebut tetap mengandung bahan haram alias babi. So, menurut saya dalam mencari sebuah iinformasi bukan sekedar berbicara dengan seseorang yang ilmunya terbatas.

Alhamdulillah informasi ini saya dapatkan LANGSUNG dari bu DR. dr Siti Fadhillah Sapari, SpJK (K) sebagai mantan menkes lohh.. Ditambah dengan pengakuan dari Biofarma bahwa mereka TIDAK PERNAH diaudit oleh pihak yang berwenang dan dalam hal ini adalah LP POM MUI.

Kalimat terakhir yang mendorong saya untuk meluruskan informasi dari blog tersebut adalah pernyataan bahwa seseorang yang bukan berasal dari kedokteran sebagaimana tertulis demikian “apalagi kalau munculnya dari orang-orang yang bukan ahlinya, atau bahkan ga punya background pendidikan kedokteran sama sekali.”

Buat saya, seorang dokter atau bukan – ia punya kemampuan untuk BELAJAR dari siapapun. Gelar dan sebagainya bukan jaminan bahwa individu tersebut akan berkata benar. Belajar adalah kata kunci yang luar biasa. Bahkan Rasulullah shalallahu alayhi wa salam menyuruh kita untuk tidak taqlid atau belajar seperti kerbau dicucuk hidungnya, dimana apapun perkataan seseorang yang dianggap pintar dijadikan hukum tanpa mempelajari lebih jauh. Dan Alhamdulillah informasi yang saya terima justru berasal dari sosok-sosok yang memiliki kompetensi tinggi, seperti DR. dr. Siti Fadhillah Sapari, SpJK(K) dan Prof. DR. Hasyim dari LP POM MUI.

Kritikan tajam saya tujukan pada kalimat ini “sorry to say, maap- maap yeee kalo agak kasar, menurut saya, orang tua yang menganggap tidak mengimunisasi anaknya adalah pilihan terbaik dan adalah hak dia untuk memilih untuk tidak mengimunisasi adalah orang tua yang LUPA, lupa bahwasanya ada HAK ORANG LAIN untuk merasa aman dari ancaman penyakit yang mematikan.”

Sebagai seorang dokter, saya memahami dengan baik bahwa jika kuman yang disuntikkan dalam tubuh seseorang dengan daya tahan tubuh yang menurun maka kuman/virus tersebut menjadi aktif bahkan menginfeksi tubuh yang menerima vaksin tersebut. Dalam hal ini, siapakah yang berjalan-jalan membawa bahan penyakit dan memiliki resiko memberikan penularan kepada anak lainnya yang sehat? Sehat tanpa bahan kimia, sehat karena ibunya memberikan pengobatan ala Rasulullah shalallahu alayhi wasalam?

Ditambah lagi pengakuan dari salah seorang karyawan Biofarma bahwa penyimpanan vaksin tersebut di beberapa wlayah pelosok Indonesia TIDAK MEMENUHI STANDAR, sehingga kemungkinan vaksin rusak atau terkontaminasi sangat besar.

Kembali pada kisah di blog tersebut “mau ngutip kalimat temennya ayah, beliau punya background pendidikan kedokteran dan sedang mengambil jenjang spesialis, aaahh:

“Allah SWT sdh Mengaruniakan akal buat kita, ilmu pengetahuan manusia sudah tahu tentang vaksinasi, kampanye sudah dijalankan, digratiskan lagi oleh pemerintah. Secara rasional, ga ada alasan lagi untuk ga vaksinasi jadi, anggapan bahwa imunisasi / vaksinasi berasal dari kedokteran barat yang penuh konspirasi untuk melemahkan umat muslim, gimana?”

Sebagai seorang dokter, walaupun dokter umum, satu hal yang saya ketahui bahwa pribadi muslim diberikan akal dan pikiran pertama kali yang dilakukannya adalah YAKINI AYAT-AYAT ALLAH dan RASULNYA. Selanjutnya baru kaji dan telaah.

Saya dan orangtua kontra vaksin kimia telah memilih ASI sebagai vaksin alami, karena kami meyakini QS. AL BAqarah : 233 dan dari ayat tersebut kami kaji lebih jauh. Saya pribadi membutuhkan waktu 7 tahun untuk meyakini bahwa inilah maksud dari ayat Allah subhanahu wa ta’ala itu, bahwa ASI adalah VAKSIN ALAMI bagi setiap anak manusia yang lahir di muka bumi.

Bukti ilmiahnya apa? Silakan membaca pada link dibawah ini, bahwa dr Albert Sabin pada awal merintis percobaan vaksin polio – beliau menggunakan kolostrum manusia dan sapi sebagai obat. Jurnal ini menunjukkan bahwa hewan yang terinfeksi oleh polio, 84% sembuh dengan pemberian kolostrum.

http://pediatrics.aappublications.org/content/29/1/105.full.pdf+html

Pada akhir kisah dalam blog tersebut, penulis menuliskan “Silahkan menilai dan menjawab sendiri yaaaa”

Maka saya menjawab “Betul, mari silakan menilai dan menjawab sendiri. Kebenaran hanyalah milik Allah subhanahu wa ta’ala semata dan kelemahan adalah dalam diri saya sebagai penulis. BELAJAR dan DO’A untuk mendapatkan cahaya kebenaran. Semoga ayah bunda tidak membutuhkan waktu selama 7 tahun seperti saya dalam meyakini kebenaran tersebut.”

Sekali lagi bukanlah sekedar halal/haram semata namun BAHAN KIMIA didalam vaksin tersebutlah yang mendorong kami untuk mengatakan dengan lantang “NO TO VACCINE”.

Sumber : http://www.facebook.com/notes/henny-zainal/jawaban-terhadap-kisah-vaksinasi-oleh-dokter-muslim/10150352538153930

Balita di Magetan Tewas Usai Imunisasi

Magetan – Diduga akibat malpraktek, Ariana Suryani Muqaromah, bocah berusia 2 bulan, warga Desa Kedungguo, Kecamatan Sukomoro Magetan meninggal dunia. Sebelum meninggal, balita ini mengalami bengkak pada paha kaki kiri setelah disuntik imunisasi di posyandu oleh bidan puskesmas.

Kepada wartawan, Selasa (24/3/2009), orangtua korban Giana (43) dan Sri Mariani (39) menjelaskan, pada tanggal 14 Maret 2009 lalu, istrinya membawa Ariana ke Posyandu yang ada di desa setempat untuk diberikan suntikan imunisasi. Imunisasi ini merupakan yang ketiga kalinya setelah anaknya lahir.

“Sebelum disuntik anak saya sehat-sehat saja dengan berat 3,9 Kg. Tapi sehari setelah disuntik imunisasi langsung bengkak dan nangis terus. Kemudian saya bawa ke bidan desa disuruh membawa ke rumah sakit di Madiun. Tapi tadi pagi meninggal,” jelas Giana.

Giana menambahkan, keluarga sangat menyayangkan kenapa sampai terjadi hal itu. Selain mengalami bengkak pada paha kaki kiri, wajah korban juga muncul bintik-bintik hitam dan kebiruan. Dirinya masih bingung apakah akan menempuh jalur hukum, karena masih berduka.

Saat wartawan mengkonfirmasi puskesmas tempat korban diberikan suntikan imunisasi, pihak puskesmas menolak untuk memberikan keterangan terkait kejadian tersebut.

Sementara, Hari Susanto Kadinkes Magetan saat dihubungi wartawan mengatakan belum bisa berkomentar karena masih ada tugas diluar kota.

“Saya masih di luar kota, nanti akan saya cek dulu bagaimana kejadiannya,” jelas Hari. (bdh/bdh)

Sumber : http://surabaya.detik.com/read/2009/03/24/135536/1104356/475/balita-di-magetan-tewas-usai-imunisasi